PENDEKATAN PERSONAL DALAM BERDAKWAH (7)

Tidak semua orang memiliki kepedulian terhadap orang lain agar menjadi baik. Kebanyakan orang hanya mementingkan dirinya sendiri, inginnya menjadi orang yang hebat sendirian tidak ada yang lebih hebat dari dia. Padahal Islam menyerukan agar manusia menjadi baik dan dapat menikmati indahnya Islam, secara bersama-sama menjadi unggul dan semakin banyak orang yang hidupnya selamat di dunia hingga di akhirat kelak. Itulah misi Islam untuk menyebarkan kebaikan kepada semua manusia. Itulah dakwah yang menjadi misi para nabi dan rasul, mengajak manusia dan membuka tabir yang menutupi hati mereka agar Allah memberikan hidayah kepada mereka. Sudah barang tentu misi Islam itu akan terealisasi apabila orang Islam melaksanakan dakwah dengan menggunakan berbagai sarana, media dan strategi yang efektif dan mungkin diterapkan.

Dalam hal ini, sejumlah ayat al-Quran telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk mengajak orang lain dengan hikmah dan mau’idzah hasanan (an-Nahl:125). Orang Islam merupakan manusia pilihan yang sengaja ditampilkan oleh Allah kepada manusia yang lain untuk mengajak mereka, menjadi mediator kebaikan bagi masyarakat (Ali Imran:110). Secara teknis, rasulullah saw. menuntun kaum muslimin menjalankan misi suci tersebut melalui sabdanya: “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman” (HR Muslim). Keteladanan dalam berperilaku dan baik dalam tutur kata didasarkan pada hati yang jernih penuh keikhlasan untuk menggapai ridha Allah, tentu menjadi keniscayaan dalam dakwah.

Menilik sejarah nabi ketika berdakwah, utamanya saat-saat menjelang hijrah ke Madinah, kita dapat menemukan sebuah pendekatan dakwah yang dilakukan oleh beliau. Pendekatan personal terhadap orang-orang tertentu yang diharapkan dapat menjadi penopang dakwah di kemudian hari menajdi kegiatan rutin yang dilakukan oleh Rasulullah di Makkah. Pendekatan personal dalam dakwah ini kemudian dalam literasi dakwah modern dikenal dengan dakwah fardiyah atau dakwah personal. Urgensi pendekatan personal dalam dakwah menjadi lebih besar, karena ada sebagian orang yang enggan tertarik dengan kebaikan kecuali didekati secara pribadi. Bisa jadi karena kelemahan yang dimiliki oleh sebagian orang tersebut tidak ingin diketahui di depan khalayak, atau kebaikan yang dipilihnya belum siap dipublikasikan kepada orang lain.

Kisah fenomenal dakwah Rasulullah terhadap pemuka Quraisy Al-Walid bin Al-Mughirah adalah contoh dakwah fardiyah yang beliau lakukan. Pada puncaknya, beliau membacakan al-Quran surat Fussilat di hadapan Al-Walid hingga mengakui keluhuran dan keunggulan al-Quran dibanding dengan karya sastra yang lain, sebagaimana dalam ungkapannya: “Demi Tuhan, tidak seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui syair-syair, prosa, dan puisi, sebagaimana yang ku ketahui. Demi Tuhan, apa yang disampaikan oleh Muhammad tidak serupa dengan semua itu. Demi Tuhan, terdapat sesuatu yang sedap didengar, manis dirasakan, dari apa yang disampaikannya. Ia memporakporandakan apa yang terdapat di bawahnya. Sesungguhnya yang disampaikan Muhammad itu tinggi dan tidak teratasi”. Meskipun akhirnya Al-Walid bin Al-Mughirah tidak sampai masuk Islam karena diancam oleh Abi Jahal.

Sukses dakwah fardiyah Rasulullah pernah dilakukan terhadap seorang penjaga kebun di Thaif bernama Addas An-Ninawi, yang akhirnya mau menerima dakwah dan masuk Islam, pada saat semua penduduk Thaif menolaknya. Demikian juga pendekatan personal beliau kepada para pemuka masyarakat Aus dan Khazraj, ketika mereka datang ke Makkah dalam rangka acara tahunan yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyah. Benar-benar Rasulullah memamfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari “mangsa”, siapakah gerangan diantara mereka yang dapat terbuka hatinya untuk menerima Islam. Hasilnya tidak mengecewakan, terhimpun 12 orang yang bergabung dengan Islam, kemudian pada tahun berikutnya bertambah 75 orang lagi. Benar-benar Allah memilih mereka sebagai pintu tersebarnya dakwah di Yatsrib atau Madinah di kemudian hari.

Sudah barang tentu pendekatan personal tersebut hanya sebagian saja dari sekian banyak pendekatan dakwah yang pernah dilakukan oleh nabi Muhammad saw. Namun, mengingat urgensi dari pendekatan personal ini, jangan sampai ditinggalkan oleh para penyeru perbaikan. Banyak orang-orang yang sebenarnya hatinya baik, hanya karena belum ada yang mendekati dan menyentuhnya, mereka belum mau mendukung kebaikan. Betapa banyak orang yang sudah sadar bahwa berinfaq di jalan Allah itu adalah jalan kebaikan, mereka belum mau berinfaq hanya karena belum mengetahui dimana proyek kebaikan yang membutuhkan dunkungan finansial dan dimana dia harus mengeluarkan hartanya?. Maka jadilah kita mediator kebaikan buat orang-orang yang mau berbuat baik.

Untuk menjadi mediator kebaikan, Allah menjanjikan balasan yang luar biasa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sungguh seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan kamu, hal itu lebih baik buatmu dari pada unta merah (harta yang paling baik)”.

Wallahu A’lam

Batu, 14 Agustus 2021

U.B. Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *