MENCARI LINGKUNGAN DAKWAH YANG KONDUSIF (6)

Tidak selamanya kebaikan itu dapat diterima dengan mudah oleh semua orang. Itulah yang terjadi pada saat Islam datang dibawa oleh baginda nabi Muhammad saw. Jauh sebelum Muhammad mendapatkan SK kenabian, nilai-nilai kebaikan Islam itu sudah terpancar pada diri beliau dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya) yang disematkan kepada beliau oleh penduduk Makkah yang masih saat itu jahiliyah. Namun, ketika benar-benar beliau mengajak kaumnya kepada tauhid, yang merupakan pangkal dari segala kebaikan, hanya sedikit sekali yang mau menerima dakwah beliau. Bahkan tidak cukup hanya menolak Islam, tetapi mereka juga memusuhi nabi dan para pengikutnya. Oleh karena itu, sepanjang sejarah perjalanan dakwah nabi Muhammad saw. pernah terjadi beberapa kali hijrah dalam rangka mencari tempat yang lebih kondusif untuk dakwah Islam.

Pada tahun ke-5 dari kenabian, terjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Saat itu, kaum muslimin yang baru masuk Islam mendapat gangguan dan siksaan dari orang kafir Quraisy. Rasulullah saw. kemudian memerintahkan sejumlah sahabat untuk hijrah ke Habasyah. Kata Rasulullah: “Sesungguhnya di Negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tidak seorangpun didzalimi di sisinya, pergilah ke negeri tersebut, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian”. Pada tahun ke-10 dari kenabian, beliau juga berangkat ke Thaif dalam rangka mencari tempat yang kondusif untuk dakwah, meskipun pada akhirnya penduduk Thaif tidak menerima kedatangan beliau saw. Selanjutnya, pada tahun ke-13 dari kenabian, tibalah saatnya Rasulullah dan seluruh kaum muslimin harus meninggalkan kota Makkah menuju Madinah, kecuali mereka yang tidak mungkin berangkat karena sakit atau sudah lanjut usia.

Lingkungan, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Baik dan tidaknya seseorang diantaranya disebabkan karena lingkungannya. Karena itulah Rasulullah mengingatkan pentingnya sahabat dalam hidup ini: “Perumpamaan sahabat yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Bersahabat dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara bersahabat dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap” (HR Bukhari Muslim). Demikian halnya dakwah Islam, membutuhkan lingkungan yang kondusif agar dapat berkembang dengan baik. Sekali lagi, sejarah nabi Muhammad saw. membuktikan hingga beberapa kali terjadi peristiwa hijrah untuk mendapatkan iklim yang baik untuk menyemai dakwah Islam.

Namun, sebelum hijrah itu dijadikan sebagai pilihan, yang perlu disadari oleh para penyeru kebaikan seharusnya terlebih dahulu berupaya untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan dengan memilih berbagai strategi dan media yang mungkin dapat digunakan. Seorang da’i tidak seharusnya menyerah dengan keadaan. Mungkin kenyataannya memang kerusakan sudah merajalela, kedzaliman sudah terjadi di mana-mana, fitnah sudah menjadi budaya dan kebiasaan kebanyakan manusia. Di sisi lain, mungkin sudah ada upaya yang sungguh-sungguh dari para pelaku perbaikan untuk mengubahnya, namun belum juga mendapatkan hasil. Meskipun demikian, tetap tidak boleh putus asa, terus harus berusaha. Bukankah nabi Yunus pernah diingatkan oleh Allah karena sempat putus asa dalam berdakwah? Hingga beliau sadar dan kembali lagi kepada kaumnya, dan ternyata kaumnya berubah menjadi siap mendukung kebaikan.

Para da’i juga perlu menyadari bahwa siapapun diantara kita tidak ada yang mengetahui kapan datangnya hidayah Allah? Kepada siapa hidayah itu akan diberikan? Semua itu adalah sesuatu yang misteri di tangan Allah swt. Oleh karena itu, tetap saja yang menjadi tugas kita adalah terus berusaha menyampaikan kebaikan dan menyebarkannya kepada obyek dakwah sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk memberi hidayah kepada manusia, karena memang yang memiliki hidayah dan yang berhak memberikannya hanya Allah swt. semata. Allah berfirman: “Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (al-Qasas:56).

Perlu disadari pula bahwa tidak selamanya manusia itu hatinya keras seperti batu yang tidak mungkin berubah dan mendapat hidayah. Sebenarnya hati yang keraspun sangat mungkin bisa berubah, kita juga sangat mungkin dapat menjadi media bagi orang lain untuk mendapatkan hidayah. Caranya adalah jika kita dapat mengetahui kunci dari hati manusia tersebut. Apabila kunci hati itu sudah terpegang, maka dengan izin Allah seseorang akan dengan cepat berubah menjadi baik, berbalik menjadi pendukung setia dakwah Islam. Sebagian orang yang memusuhi kebaikan, diantara sebabnya karena belum mengetahui hakekat dari kebaikan itu. Jika penutup kebaikan itu sudah tersingkap dari hadapan mereka, maka pasti manusia akan menerima bahkan mengejar kebaikan itu.

Wallahu A’lam

Batu, 13 Agustus 2021

U.B. Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *