HIJRAH ITU PERUBAHAN (1)

Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dapat diketahui pada saat ini karena terdapat tanda-tanda atau peninggalan yang menjadi bukti bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi. Membaca dan mempelajari sejarah itu sangat penting bagi manusia agar dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dengan demikian, sejarah dalam hal ini berperan sebagai media bahkan materi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, al-Quran al-Karim sendiri sarat dengan peristiwa-peristiwa sejarah masa lampau, baik sejarah orang-orang baik maupun sebaiknya. Al-Quran menampilkan cerita orang-orang yang taat agar ketaatannya dapat diteladani, sementara dari cerita orang-orang yang maksiat agar kemaksiatannya tidak diteladani.

Bulan ini, salah satu sejarah yang patut dikaji adalah peristiwa hijrah nabi Muhammad saw. Bagi seorang muslim, sejarah hijrah ini tidak hanya sekedar sejarah yang harus diperingati, namun harus menghasilkan perubahan-perubahan yang nyata dalam kehidupannya sebagai muslim. Sudah barang tentu, perubahan yang dimaksud bukan perpindahan secara fisik, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya berpindah dari kota Makkah ke kota Madinah. Namun perubahan yang selalu harus terjadi pada setiap muslim adalah perubahan dari kebiasaan atau tradisi yang tidak baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Perubahan itu harus nyata, barang siapa yang hari ini tidak berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin, maka kerugianlah yang didapatkan. Begitulah ajaran baginda nabi Muhammad saw., agar umatnya selalu berubah yang betul-betul menjadi umat terbaik sepanjang zaman.

Mengapa nabi Muhammad saw. harus hijrah? Tidakkah mungkin bagi Allah menjadikan kota Makkah, sebagai tempat yang layak untuk pengembangan Islam? Perlu diketahui bahwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebenarnya bukan karena kehendak atau keinginan baginda nabi Muhammad saw. Terbukti, ketika Rasulullah mau pergi meninggalkan kota Makkah, beliau sempat berhenti dan berbalik arah menghadap ke kota Makkah, menyampaikan pesan buat kota Makkah seraya berkata, “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang paling kucintai, dan Allah-pun mencintaimu lebih dari belahan bumi yang lain. Seandainya pendudukmu tidak mengusirku, tentu saya tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Perpindahan nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah juga bukan karena nabi takut dan khawatir akan keselamatan dirinya, meskipun pada kenyataannya permusuhan dari kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi, bahkan keluarga beliau sendiri juga memusuhinya. Sama sekali rasulullah saw. tidak takut dengan permusuhan dari kaumnya. Hal ini dapat kita pahami dari pernyataan beliau dihadapan para pemuka suku Quraisy yang diantaranya hadir pamannya sendiri, beliua berkata: “Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku atau aku binasa karenanya”. Jadi, nabi tidak pernah takut dengan siapapun, karena ada Allah yang selalu menjaganya dari tipudaya manusia.

Hijrah nabi adalah sekenario Allah swt. buat nabi-Nya dan para sahabat. Hijrah nabi adalah salah satu bentuk tarbiyah atau pembinaan yang dilakukan oleh Allah secara langsung buat mereka. Allah ingin agar Islam dapat berkembang lebih cepat, karena itu harus ada perubahan dan lompatan yang jauh agar Islam cepat melejit. Perubahan yang diinginkan oleh Allah adalah perubahan yang menyeluruh, meliputi (1) perubahan poros dakwah Islam, (2) penyiapan penerapan tata kehidupan yang baru, (3) perubahan perilaku para pelaku dakwah Islam, dan (4) perubahan cara dan media serta strategi dalam menyebarkan kebaikan dan dakwah Islam. Perubahan menyeluruh itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan hijrah, maka turunlah perintah hijrah yang mengikat seluruh umat Islam.

Dalam kenyataannya, hijrah nabi dapat merealisasikan dua hal, Pertama: membuka lahan dakwah baru, memperluas teritorial dakwah yang sebelumnya hanya di kota Makkah saja. Bahkan dari kota Madinah dapat tersebar menjadi lebih luas lagi, hingga ketika nabi Muhammad saw. wafat, seluruh jazirah Arab penduduknya semuanya sudah memeluk Islam. Kedua: Implementasi sistem Islam dalam kehidupan. Karena Islam bukan hanya sekedar teori atau hal-hal yang normatif, namun perlu diterapkan dalam kehidupan nyata agar benar-benar manfaatnya dirasakan oleh manusia.

Sudah barang tentu, pelajaran berharga bagi kita adalah dengan mengkaji kembali sejarah hijrah ini, harus terjadi perubahan dalam diri kita menjadi yang lebih baik. Perubahan itu tergantung pada diri kita masing-masing, karena Allah akan memudahkan perubahan itu terjadi apabila kita mau merubah diri kita sendiri. Kalaulah bukan kita sendiri yang merubah diri kita, maka siapa yang akan merubahnya?.

Wallahu A’lam

Batu, 8 Agustus 2021

U.B. Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *