PELAJARAN HIDUP DARI DAMIR (نا)

Teringat 30 tahun yang silam ketika belajar ilmu Nahwu di pesantren Karangasem Paciran, guru kami KH. Anwar Mu’rob –semoga Allah memanjangkan umurnya– mengajarkan kepada kami kitab Alfiyah Ibnu Malik yang disyarah oleh Ibnu ‘Aqil. Salah satu diantara pelajaran yang disampaikan saat itu adalah tentang isim damir yang secara umum meskipun statusnya mabni (tetap), namun bentuk penulisannya dapat berubah-ubah. Sebagai contoh damir yang menunjukkan laki-laki ketiga tunggal, dalam kondisi rafa’ bentuknya (هو), ketika nasab berubah seperti ini (إنه), dan ketika jar seperti ini (به). Sementara, ada satu damir yang bentuknya tidak berubah dalam ketiga kondisi tersebut, yaitu damir muttasil pertama jama’ (نا). Baik kondisi rafa’, nasab dan jar bentuknya tetap sama (نا).

Materi nahwu tentang damir (نا) ini memberi inspirasi kepada kita tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bermasyarakat. Kondisi sosial seseorang di masyarakat adakalanya dalam posisi yang tinggi atau menjadi pemimpin yang sudah barang tentu posisi terhormat yang suaranya didengar dan ditaati oleh masyarakat.  Kondisi kedua adalah dalam posisi sedang atau selevel, seperti posisi bersama teman-teman sekolah baik saat SMP atau SMA maupun di perguruan tinggi. Kondisi ketiga adalah dalam posisi di bawah atau menjadi rakyat biasa yang tentunya harus mendengar dan taat kepada atasannya. Damir (نا) ternyata memberi pelajaran berharga pada kita agar dapat menyesuaikan dengan semua keadaan yang ada, sehingga keberadaan kita dalam kondisi apapun tetap dapat diterima oleh masyarakat.

Diantara pelajaran dari damir (نا) adalah hendaknya kita dapat bergaul dengan siapapun. Pada hakekatnya, keberadaan seorang mukmin harus dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain, dimunculkan dikalangan masyarakat yang beragam agar dapat memberi pengaruh positif buat mereka. Hal ini karena yang dibawa oleh setiap mukmin adalah kebaikan yang seharusnya dapat dinikmati oleh anggota masyarakat yang lain. Keberadan seorang mukmin dalam posisi apapun tetap pembawa misi kebaikan, tidak ada bedanya dalam kondisi memimpin maupun dipimpin. Karena itulah manusia mukmin disebut umat terbaik karena adanya kebaikan dan manfaat yang selalu disebarkan. Allah berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali-Imran:110).

Pelajaran yang lain dari konsistensi damir (نا) adalah hendaknya dalam kondisi apapun kesalehan seseorang tidak berubah. Dalam keadaan terhormat (rafa’), sedang (nashab), maupun di bawah (jar), tetap konsisten dan istiqomah dalam kebaikan. Ketika masih miskin aktif membaca al-Quran, demikian juga ketika sudah menjadi orang kaya. Ketika menjadi penguasa selalu memberi teladan untuk shalat berjamaah, demikian pula ketika kekuasaannya sudah bergilir kepada orang lain tetap menjadi teladan yang baik. Allah swt memerintahkan kepada kita agar tetap istiqamah berjihad memperjuangkan kebenaran dalam kondisi apapun, demikian Allah berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS At-Taubah:41).

Sayang sekali kebanyakan manusia jarang yang dapat konsisten dalam berperilaku. Banyak orang yang dengan mudah menasehatkan kesabaran kepada yang lain, namun ketika dirinya ditimpa musibah sulit untuk dapat menerapkan nasehatnnya buat dirinya sendiri. Tidak sedikit orang yang mudah memberi harapan dengan menawarkan bantuan kepada saudaranya, namun ketika betul-betul dimintai bantuan dengan mudah mengeluarkan berbagai alasan untuk tidak bisa bantu. Sering kita temukan orang yang manis dan bijaksana dalam bertutur kata, namun tidak bijaksana dalam berperilaku. Itulah keadaan manusia, dengan mudah mereka mengatakan sesuatu namun sulit baginya untuk melaksanakan.

Berbeda antara perkataan dan berbuata adalah perilaku yang dibenci oleh Allah. Besar murkan Allah kepada orang-orang yang hanya bisa ngomong namun tidak bisa melaksanakan omongannya. Sudah barang tentu kita sebagai mukmin harus dapat menjaga diri dan melatihnya untuk sama antara perkataan dan perbuatan kita. Konsiten dalam kesalehan dalam kondisi apapun adalah keniscayaan, agar Allah menganugerahkan kepada kita ketenangan, menghilangkan kesedihan dan kegundahan dari kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Wallahu A’lam

Batu, 03 Agustus 2021

U.B. Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *