SATU WAJAH BAGI MUKMIN

Dikisahkan bahwa beberapa orang yang hidupnya tidak berkecukupan di kota Madinah dikagetkan dengan kiriman gandum setiap hari ke rumah-rumah mereka. Mereka pun tidak mengetahui siapakah gerangan dermawan yang senantiasa mendatangi rumah mereka dan membagikan bahan makanan tersebut. Sampai suatu ketika, ada seorang ulama terkemuka wafat. Sebagian warga heran saat mereka akan memandikan sang ulama tersebut karena mereka menemukan sejumlah bekas berwarna hitam di punggungnya. Setelah diselidiki, tanda hitam itu seperti bekas orang yang sering mengangkat beban di punggungnya. Ulama itu adalah Ali bin Al-Husain Zainal Abidin semoga Allah merahmati dan meridhainya.

Kisah di atas adalah salah satu contoh dari sikap seorang mukmin sejati, tidak ingin menampakkan kebaikan-kebaikannya di hadapan manusia. Tujuan hidupnya hanyalah Allah azza wa jalla semata, bukan ingin dilihat dan disanjung oleh manusia. Keridhaan Allah bagi setiap mukmin menjadi target utama dalam setiap gerak dan langkahnya. Bisa jadi seorang mukmin menjadi tidak ada nilai dan tidak popular di hadapan manusia, namun di hadapan Allah menjadi sangat mulia dan istimewa. Apalah artinya, menjadi mulia dan dipuja-puja oleh manusia karena kehebatannya dan kepiawaiannya, namun tidak berarti sama sekali di hadapan Allah swt.

Sayangnya, sebagian manusia lupa kalau seluruh perilakunya diawasi dan dipantau oleh Allah, sehingga dengan bangga dan congkaknya hanya menyandarkan penilaian dirinya di hadapan manusia semata. Lebih parah dari itu, sebagian manusia membuat dan merencanakan kejahatan secara sembunyi-sembunyi untuk menghabisi dan menjatuhkan saudaranya. Mereka mengira bahwa apa yang dilakukan itu tidak diketahui oleh siapapun. Manusia memang tidak mengetahuinya, namun apakah Allah tidak mengetahui rencana-rencana tersebut? Oleh karena itulah, al Quran mengingatkan kita semua, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka” (QS An-Nisa’:108)

Diantara para mufassir menjelaskan ayat tersebut bahwa, “Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah melihatnya meski dalam kegelapan niscaya dia akan meninggalkan perbuatan dosa dan khianat karena rasa malu kepada-Nya dan rasa takut dari siksaan-Nya. Allah menyaksikan mereka ketika mereka sedang mengatur siasat pada malam hari dengan perkataan yang tidak diridhoi-Nya, kemudian mereka berlepas diri dari perbuatan itu dan menuduh orang lain yang melakukannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat perbuatan mereka, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sesuatu sekecil apapun baik itu di langit maupun di bumi sehingga tidak ada jalan bagi mereka untuk selamat dari siksaan-Nya” (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah).

Setiap mukmin dituntut untuk memiliki satu wajah saja, sama antara wajahnya di hadapan manusia dan di hadapan Allah swt, tidak berbeda antara perbuatannya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dalam kondisi apapun seharusnya sama saja, pada saat lapang maupun sempit tetap berkarya, saat bahagia maupun bersedih tetap selalu memberi manfaat, saat banyak harta maupun tidak tetap berinfaq dan bersedekah, bahkan pada saat memegang jabatan tertentu maupun tidak senantiasa tetap membantu orang lain. Hal itu karena setiap mukmin pasti meyakini bahwa Allah tetap akan melihatnya dalam kondisi apapun dan dimanapun berada.

Bahkan lebih baik lagi, seandainya dihadapan Allah potretnya lebih baik dari pada yang dipersepsikan oleh manusia. Kisah Imam Ali bin Al-Husain di atas adalah contoh bagaimana beliau lebih mengutamakan penilaian Allah dari pada penilaian manusia. Seandainya bisa, memang dalam bersedekah sebaiknya dirahasiakan, shalat di tengah malam tidak diketahui orang, dan kebaikan-kebaikan yang lain disembunyikan untuk dijadikan alasan di hadapan Allah untuk mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari-Nya. Barang siapa yang memiliki dua wajah, tentu kondisi seperti itu lebih dekat dengan sifat orang munafiq, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat tersebut.

Tidak mudah memang memiliki satu wajah, karena nafsu yang selalu menguasai diri manusia, sehingga banyak manusia yang cenderung memoles wajahnya sehingga memiliki dua wajah bahkan lebih dari itu. Karena itulah, istiqamah adalah satu-satunya jalan bagi setiap mukmin untuk tetap memiliki satu wajah saja. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk tetap istiqamah dalam kebaikan.

U.B. Umar

Batu, 29 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *