APAKAH KITA DITUNTUT UNTUK SAMPAI?

Setelah perintah hijrah dari Makkah ke Madinah telah ditunaikan dengan sempurna oleh nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya, ternyata masih ada orang-orang Islam yang tidak dapat menunaikan perintah suci itu tersebutm. Mereka tetap tinggal di Makkah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk hijrah, sebagian karena sakit atau sudah lanjut usia, sehingga tidak mampu lagi melakukan perjalanan panjang ke Madinah, ditambah lagi dengan terik matahari padang pasir yang sangat menyengat dan membakar.

Salah satu diantara sahabat yang masih tersisa di Makkah adalah Dhamrah bin Jundub r.a, beliau tidak mampu lagi bepergian karena sakit, ditambah lagi sudah lanjut usia. Namun, hatinya sangat bergejolak karena tidak dapat menunaikan perintah Allah untuk berhijrah. Hari-hari berlalu semakin gundah, apalagi di tengah kaum kafir Quraisy yang tentunya dengan pilihannya menjadi muslim membuat semakin tidak kerasan hidup bersama mereka. Sahabat Dhamrah bin Jundub akhirnya memutuskan diri untuk berangkat hijrah, meski kondisi tidak memungkinkan. Tekadya yang kuat mengalahkan rasa sakit yang dideritanya. Beliau berpura-pura sehat, seolah-olah bisa melakukan perjalanan dari Makkah ke Madinah yang jauhnya kurang lebih 400 KM.

Di tengah perjalanan, ternyata sakitnya bertambah parah, sehingga betul-betul beliau tidak bisa melangkahkan kakinya lagi untuk melanjutkan perjalanan. Saat itulah, beliau harus benar-benar berhenti seraya dua kali menepukkan dua tangannya, tepukan pertama beliau mengatakan, “ya Allah inilah bukti baiatku pada-Mu”, sementara pada tepukan yang kedua mengatakan, “ya Allah inilah bukti baiatku kepada nabi-Mu”. Akhirnya sahabat Dhamrah bin Jundub mengakhiri hidupnya, menjadi syahid dalam perjalanan hijrah.

Malaikat Jibril menyampaikan kisah kematian Dhamrah bin Jundub kepada nabi Muhammad saw., maka turunlah ayat:”Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (An-Nisa’:100).

Berita kematian Dhamrah bin Jundub pun disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya, seraya nabi menyampaikan arahan dalam hadisnya yang diabadikan dalam kitab Shahih Bukhari dan Hadis Arbain, keduanya terdapat pada hadis pertama: “Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya” (HR. Bkhari dan Muslim).

Sungguh, Dhamrah bin Jundub telah mendapatkan kemuliaan dari Allah, yang tidak didapatkan oleh sahabat yang lain, dimana Al-Qur’an dan Al-Hadis turun berkenaan dengan beliau, meskipun tujuannya sampai di kota Madinah belum kesampaian.

Kawan…

Jalan perjuangan menyebarkan kebaikan itu amat sangat panjang, kita tidak dituntut harus sampai pada ujungnya. Hal yang paling penting adalah kita tetap berada pada jalan itu, hingga mati kita berada di jalan-Nya. Perjuangan menggapai ridha Allah tidak mengharuskan kita dapat menikmati hasil atau sampai pada tujuan. Yang penting, cukup bagi kita sudah bekerja keras dan maksimal di jalan perjuangan itu. Sudah barang tentu disertai niat yang benar.

Jagalah perjuangan kita untuk menyebarkan kebenaran karena Allah di muka bumi ini. Sungguh, hati kita sangat lemah. Fitnah dan cinta dunia seringkali menggerogoti lemahnya hati tersebut. Orang-orang yang berguguran dari jalan kebenaran ini juga tidak terhitung jumlahnya.

Ya Allah, jagalah hati kami untuk tetap istiqamah di jalan-Mu, jalan perjuangan menyebarkan kebaikan di muka bumi ini. Jauhkan kami dari segala macam fitnah, baik yang nampak maupun tidak.

U.B. Umar

Batu, 28 Juli 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *