JIKA MEREKA TELAH MENCINTAI BAHASA ARAB

Dialah Umar bin Khattab, khalifah kedua dari al Khulafa’ ar Rasyidin. Telah memiliki perhatian dan kecintaan terhadap bahasa Arab yang luar biasa, dia pernah mengeluarkan intruksi secara khusus kepada salah satu gubernurnya “ Abu Musa al Asy’ari” terkait dengan belajar bahasa Arab, beliau mengatakan dalam intruksinya: “Pelajarilah Sunnah, dalamilah bahasa Arab dan bacalah al Quran dengan logat bahasa Arab, karena al Quran itu diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab”.

Dalam kesempatan yang lain beliau juga pernah mengatakan: “Hendaklah kalian belajar bahasa Arab, karena itu adalah bagian dari agama kalian. Dan pelajarilah faraidl, karena itu juga bagian dari agama kalian”.

Dalam dua pernyataan Umar bin Khattab di atas, beliau mensejajarkan bahasa Arab dengan syari’at, dan keduanya adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari agama Islam. Seakan-akan beliau ingin mengatakan bahawa dalam Islam ada dua hal yang harus didalami, yaitu bahasa Arab dan syari’at, karena fiqh dalam Islam itu terdiri dari perkataan dan perbuatan, maka memahami bahasa Arab adalah jalan menuju penguasaan terhadap fiqh aqwāl, dan memahami syari’at adalah jalan menuju fiqh a’māl.

Abdul Malik bin Muhammad bin Ismail Ats Tsa’ālabῑ  adalah ahli lingusitik Arab yang lahir pada tahun 350 H. di daerah Naisabur. Kecintaannya terhadap bahasa Arab ia tuangkan dalam salah satu karya monumentalnya “Fiqh al Lughah wa Sirr al ‘Arabiyah”. Dia mengatakan dalam buku tersebut: “Siapa saja yang mencintai Allah, maka dia harus mencintai Muhammad saw. Siapa saja yang mencintai Muhammad yang berasal dari bangsa Arab, maka dia harus mencintai masyarakat Arab. Dan siapa saja yang mencintai mereka, maka dia harus mencintai bahasa Arab yang telah digunakan sebagai bahasa kitab suci yang paling utama bagi masyarakat Arab dan non Arab”.

Syaikhul Islam Ibu Taimiyah, salah seorang tokoh pembaharu dalam Islam yang lahir pada tahun 661 H. di Turki, telah menempatkan bahasa Arab sebagai kunci utama dalam menjaga keutuhan agama Islam. Dalam salah satu karyanya “Iqtidlā’ as Shirāth al Mustaqῑm”, dia mengatakan: “Ketika Allah menurunkan al Quran dengan menggunakan bahasa Arab, ketika mengutus rasulnya untuk mendakwahkan al Quran dengan menggunakan bahasa Arab, ketika orang-orang terdahulu dalam agama ini semuanya berbicara dengan bahasa Arab, maka sesungguhnya tidak ada jalan lain untuk menjaga dan memahami agama ini kecuali dengan menguasai bahasa Arab. Menguasai bahasa Arab merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama ini”.

Dalam kesempatan yang lain dia juga pernah mengatakan: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama, menguasainya hukumnya wajib, karena memahami al Quran dan Sunnah hukumnya wajib juga dan tidak bisa difahami kecuali dengan menguasai bahasa Arab. Sesuatu kewajiban yang tidak akan terlaksana dengan baik kecuali dengan menguasai sesuatu yang lain, maka yang lain itu hukumnya menjadi wajib pula”.

Hasan Al Banna, yang lahir pada tahu 1906 di kota Mahmudiyah, Mesir, tokoh pergerakan Islam, sekaligus pendiri organisasi Islam terbesar abad ini, juga sangat memiliki perhatian terhadap bahasa Arab. Dalam salah satu pesannya yang dikenal dengan “sepuluh wasiat Hasan Al Banna”, dia mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dalam berbicara bahasa Arab Fusha, karena itu merupakan syi’ar Islam”.

Di Indonesia, ada dua tokoh pergerakan Islam di abad modern ini sekaligus pendiri dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu KH Ahmad Dahlan (1912 M) dan KH Hasyim Asy’ari (1926 M). Sepak terjang mereka dalam belajar dan mengajarkan bahasa Arab tak dapat dipungkiri lagi. Bukti otentik dari tingginya perhatian dua tokoh tersebut terhadap bahasa Arab adalah bahwa sampai saat ini dua organisasi besar Islam itu mewajibkan siapa saja yang belajar di sekolah dan pesantren mereka untuk belajar bahasa Arab. Ya, mereka telah mencintai bahasa Arab, mereka telah bekerja untuk kejayaan bahasa Al Quran, mereka telah berjihad untuk mempertahankan bahasa as Sunnah. Semoga kita bisa menjadi penerusnya dalam perjuangan yang belum usai ini. Wallahu a’lam.

Batu, 02 Juli 2021

U.B. Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *