COVID-19: TIDAK MENULAR?

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta periode 1-7 Februari 2021, tercatat 581 penularan yang terjadi pada keluarga atau yang biasa disebut dengan klaster keluarga. Mekipun demikian, masih ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa Covid-19 adalah penyakit yang tidak menular dengan alasan keluarganya tidak ada yang tertular, padahal dia pernah terpapar Covid-19 dan sekarang statusnya adalah penyintas alias telah sembuh. Bahkan ada juga yang beranggapan tidak ada di dunia ini penyakit menular.  Ini adalah realita di masyarakat kita yang masih belum percaya dengan fenomena yang terjadi, meskipun peristiwa itu sudah hadir dan masuk dalam rumahnya. Bahkan kadang-kadang mereka berdalil dengan hadis bahwa tidak ada penyakit menular, termasuk Covid-19.

Pola pikir masyarakat seperti itu masih banyak kita jumpai di sekitar kita, kadang-kadang terjadi pada masyarakat terdidik bahkan para tokoh agama yang banyak diikuti oleh masyarakat. Karena itu dalam kesempatan ini, marilah kita kaji beberapa hadis yang ada secara koprehensif, sehingga akan menghasilkan pemahaman yang utuh dan tidak parsial.

Memaknai hadis “tidak ada penularan penyakit”:

Memang, terdapat hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa tidak ada penularan penyakit, tidak boleh merasa sial, dan dalam hidup ini harus selalu optimis. Dalam redaksi hadis yang lain ditambahkan selain meniadakan penyakit menular dan merasa sial, tidak boleh pula menganggap sial ketika melihat burung Būmah (jenis burung tertentu yang kehadirannya dianggap sial oleh orang Arab) dan bulan Safar. Sekilas, ketika membaca riwayat di atas, terkesan bahwa tidak ada penyakit menular. Bahkan penafian itu menggunakan jenis kata lā nafiyah li al jins, artinya tidak ada sama sekali jenis penyakit apapun yang dapat menular di dunia ini. Namun dalam realitas kehidupan sehari-hari, terdapat puluhan penyakit yang nyata-nyata dapat menular seperti influenza, TBC, muntaber, cacar air, termasuk covid-19 dan lain-lain. Lalu, bagaimana mendudukkan hadis di atas dengan realitas yang ada? Benarkah tidak ada penyakit menular?

Untuk memahami riwayat di atas, ada beberapa penafsiran, diantaranya dalam hadis tersebut, Rasulullah ingin mengajarkan kepada setiap muslim sikap optimis dalam menjalani kehidupan di dunia ini, jangan sampai ada sedikitpun terbersit sikap pesimis atau berfikir negatif yang justru akan membuat kehidupan manusia menjadi tidak dinamis dan hilangnya sifat produktif. Hal ini dikuatkan dengan beberapa larangan yang juga disebutkan dalam hadis tersebut, yang semuanya adalah larangan beranggapan sial ketika terjadi atau melihat sesuatu. Maka, makna dari hadis di atas adalah (1) larangan putus asa ketika ditimpa musibah berupa penyakit, sehingga tetap harus optimis akan mendapatkan kesembuhan dari Allah, (2) larangan menganggap sial ketika melihat makhluk tertentu seperti melihat burung gagak mengelilingi seseorang, binatang melintas di depan perjalanan seseorang, dan (3) larangan merasa sial ketika melakukan aktifitas di bulan Safar seperi menikah, khitanan dan lain-lain.

Penyakit menular dan tindakan preventif:

Diriwayatkan dalam hadis lain bahwa Rasulullah saw. bersabda, (فر من المجذوم فرارك من الأسد) “berlarilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa” (HR Muslim). Pada hadis ini Rasulullah memerintahkan berlari atau menjauhi orang yang kena penyakit kusta dengan segera dan cepat seperti berlari dari singa yang akan menerkamnya. Hadis tersebut memastikan adanya penyakit atau wabah menular, namun tidak serta merta akan menular dengan sendirinya, keculai dengan izin dan kehendak dari Allah swt. Hadis lain senada dengan itu, (لا يورد ممرض على مصح) “janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit” (HR Bukhari&Muslim). Pada hadis ini Rasulullah melarang mencampur unta yang sehat dan yang sakit dalam satu tempat, tentunya agar tidak menular sakitnya. Hal ini adalah merupakan tindakan preventif atau pencegahan sebelum terjadinya penularan. Tindakan preventif ini dikuatkan dengan firman Allah, “janganlah kalian mencampakkan dengan tangan kalian pada kerusakan” (Al Baqarh:195).

Hadis pertama yang meniadakan penyakit atau wabah menular tujuannya untuk membantah keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa wabah itu dapat menular dengan sendirinya, yaitu tanpa ada kaitannya dengan takdir dan kehendak dari Allah swt. Hadis ini pada saat yang sama adalah larangan bagi kita juga, untuk tidak berperilaku seperti pikiran dan keyakinan orang jahiliyah tersebut. Meskipun dalam realitasnya terdapat penyakit menular, namun jika Allah menghendaki lain, maka penularan itu tidak akan terjadi. Sehingga dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak tertular penyakit meskipun hidup bersama dengan orang lain yang memiliki penyakit menular. Namun, tidak berarti bahwa penyakit menular itu tidak ada. Tidak mungkin Rasulullah mengingkari adanya penyakit menular, karena dalam kenyataannya penularan itu nyata terjadi.

Covid-19 tetap menular dengan kehendak Allah:

Suatu ketika dikatakan kepada Rasulullah saw., “bahwa tadinya unta ini sehat, namun setelah dicampur dengan unta yang kena penyakit kudis, unta yang sehat itu menjadi terkena kudis juga. Kemudian Rasulullah saw. balik bertanya, (فمن أعدى الأول)  “kalau begitu, siapakah yang menularkan kudis pada unta pertama?”. Cerita ini memperkuat kesimpulan bahwa penularan penyakit itu tidak terjadi dengan sendirinya. Jika terjadi dengan sendirinya, maka dari manakah penyakit yang mengenai unta pertama? Dalam kasus unta pertama, sebabnya tidak jelas. Yang jelas adalah bahwa Allah berkehendak memberi penyakit pada unta pertama dan tertularnya kepada unta kedua adalah dengan kehendak-Nya pula.

Terkait dengan wabah Covid-19 yang telah dinyatakan oleh para ahli kesehatan termasuk penyakit menular, kita tetap harus meyakini bahawa memang virus itu menular, dengan sejumlah bukti yang dapat kita saksikan selama kurang lebih satau tahun mewabah di dunia ini hingga saat ini belum juga berakhir. Namun, sebagaimana penyakit menular yang lain, kita tetap yakin bahwa proses penularannya kepada manusia lain tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena kehendak Allah swt. Pengalaman pribadi seseorang yang menunjukkan bahwa dia tidak tertular Covid-19 meski hidup bersama dengan mereka yang terpapar tidak bisa dijadikan dalil untuk meniadakan penularan. Karena kebetulan Allah swt. tidak menghendaki dia tertular. Kasus penularan yang lain, sudah amat banyak terjadi dengan kehendak Allah juga. Dengan demikian, tidak boleh dimaknai bahwa Covid-19 tidak menular.

Sebagai bagian dari upaya preventif atau pencegahan, maka berdasarkan hadis dan ayat tersebut di atas, kita harus tetap mentaati prosedur dan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemegang otoritasnya, dalam hal ini adalah para ahli medis yang telah mengkaji dan mendalami ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini. Upaya preventif itu adalah selalu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Setelah itu, semuanya harus dikembalikan kepada Allah, tawakkal kepada-Nya serta memohon perlindungan dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya. Semoga Allah swt. senantiasa menjaga kita semua, memberi kesempatan lebih banyak kepada kita untuk lebih memberi manfaat buat orang lain. Wallahu A’lam.

U.B. Umar

Batu, 15 Februari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *